Antara Perlawanan dan Ijazah


Tanpa bersentuhan dengan pendidikan alternatif, Haryanti (34) mungkin tidak akan mempunyai cita-cita masuk perguruan tinggi atau bekerja menjadi guru.

Sekolah telah lama ditinggalkan Harti, demikian ia biasa dipanggil, ketika Sanggar Anak Alam berdiri di kampungnya di Lawen, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Seperti kebanyakan anak-anak desa pada masa itu, Harti berhenti sekolah setamat SD. Lepas dari sekolah ia hanya membantu ibunya mengerjakan tugas di dapur atau membantu bekerja di kebun. Sesekali ia belajar menari di grup ketoprak yang diasuh ayahnya.

pendidikanalternatif-01

Harti, gadis yang cepat belajar. Berbagai keterampilan cepat dikuasainya. Ia juga rajin membaca. Bakatnya mengajar juga tumbuh dengan pesat. Karena itu, meski hanya mengantongi ijazah SD, ia dipercaya mengajar di taman kanak-kanak (TK) yang didirikan Sanggar Anak Alam. Kegiatan TK itu terhenti setelah berjalan lima tahun setelah muncul protes karena gurunya hanya lulusan SD.

Harti tak putus asa. Keinginannya mengajar muncul kembali saat ia hijrah mengikuti suaminya ke Jombang, Jawa Timur. Ia direkrut untuk mengajar di TK Yayasan Al Muhamadi milik budayawan Emha Ainun Najib. Sambil mengajar, ia ikut program kelompok belajar. Berbekal ijazah penyetaraan itu, ia kini melanjutkan kuliah program Diploma Pendidikan Guru TK.

“Saya membutuhkan ijazah untuk menunjang kegiatan saya mengajar,” ujarnya.

Cita-cita tak bisa dicegah

Sekolah alternatif muncul sebagai respons terhadap kealpaan negara dalam memberikan hak-hak pendidikan kepada masyarakat bawah. Para aktivis pendidikan alternatif dengan sadar mendesain agar tumbuh kesadaran kritis pada anak didiknya, membantu mereka menemukan jalan untuk keluar dari kemiskinan yang membelenggu mereka. Kesadaran kritis terhadap sistem yang memiskinkan merupakan agenda penting dalam pendidikan alternatif.

Akan tetapi, ketika kesadaran itu tumbuh, anak-anak tersebut tidak sekadar ingin memperoleh pekerjaan yang layak agar dapat keluar dari kemiskinan yang mengimpit keluarganya. Mereka bahkan memiliki keinginan dan cita-cita yang tidak kalah dengan anak-anak “normal”.

Sebutlah Dede Supriyatna (21). Dede, yang dipanggil Ambon oleh kawan-kawannya, melewatkan masa kecil dengan menjual koran di perempatan jalan di Jakarta. Bapaknya dulu bekerja sebagai petugas satpam, harus menghidupi delapan anak. Beruntung, Ambon bersentuhan dengan Sanggar Akar sehingga ia bisa tetap bersekolah. Meski tak dianjurkan, Ambon terus belajar di sekolah formal. Padahal, kegiatan di sanggar biasanya berlangsung hingga dini hari.

Tamat SMP, Ambon melanjutkan pendidikan ke STM. Meski belajar otomotif, ia ternyata lebih tertarik pada pelajaran musik yang didapatkannya di sanggar daripada mengutak-atik mesin. Pelajaran praktik di bengkel merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Ambon. “Sering saya tiduran di kolong mesin,” katanya.

Dengan bekal ijazah STM itu ia kuliah Pendidikan Seni Musik di Universitas Negeri Jakarta. Sebelumnya ia belajar piano gratis selama setahun di lembaga pendidikan musik yang dipimpin Dwiki Dharmawan.

Di samping kuliah, kini ia memberikan les privat gitar dan mengajar ekstrakurikuler musik di SD Vincencius.
Sekalipun bisa memperoleh uang, ia tidak mau memberikan les bila itu mengganggu aktivitasnya sehari-hari di sanggar mulai pukul 19.00 hingga dini hari. “Setengah hidup saya, saya habiskan di sanggar. Saya ingin ikut mengembangkan sanggar,” kata Ambon. “Tanpa Sanggar Akar, mungkin saya akan jadi orang biasa-biasa saja. Paling-paling kerja di pabrik. Siang kerja, malam tidur,” ungkapnya.

Ambon merupakan salah satu dari delapan anak Sanggar Akar yang saat ini kuliah. Mereka pada mulanya adalah anak-anak dari kalangan marginal yang harus bergulat dalam keterbatasan ekonomi sehingga menutup mimpi-mimpi mereka akan masa depan. Di tengah keharusan mencari uang, belajar di sanggar, mereka juga belajar di sekolah formal. Pendidikan alternatif tidak hanya membuka peluang dari belenggu kemiskinan yang mengelilingi ruang kehidupan mereka, tetapi juga membuka diri mereka pada dunia yang jauh lebih luas.

Itu tercermin dalam keputusan mereka dalam mengambil bidang studi. Ada yang mengambil program studi Pendidikan Seni Rupa, Akuntansi, maupun Bahasa Inggris. Bahkan Rika (19) memilih belajar filsafat dan mulai semester ini mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Mereka tidak bercita-cita menjadi pegawai negeri atau karyawan perusahaan. Kalaupun bekerja formal, mereka ingin menjadi guru. Namun, mereka umumnya lebih suka mengembangkan pendidikan alternatif seperti yang mereka dapatkan selama ini.

Penulis: P Bambang Wisudo
Sumber: Sekolah Tanpa Batas

(Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas,17 September 2005)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *