“Biarkan Kami di Jalanan…”


RATUSAN anak yang sehari-hari bergulat di jalanan, Kamis (12/7), tenggelam dalam luapan kegembiraan. Anak-anak berusia enam sampai belasan tahun itu berlarian, berkejar-kejaran, menjerit, tertawa, dan saling mengancam. Sebagian membawa kaleng, gelas, botol penuh cat warna-warni, sebagian lagi berburu dengan tangan berlumuran cat, menangkap siapa saja yang ada di areal itu. Mereka saling mencoreng badan, menyiram, bahkan mengguyurkan cat dari atas kepala sampai ke ujung kaki.

“Ini acara yang paling menyenangkan. Saya senang mencorat-coret kawan saya,” kata Sisriyani (6), anak seorang pemulung dari Bantar Gebang.

pendidikanalternatif-05

Mereka kemudian meneriakkan yel-yel ABG, memukul kaleng, tambur, potongan bambu, atau benda apa saja yang bisa mengeluarkan bunyi. ABG ternyata merupakan kependekan dari Anak Bantar Gebang, identitas anak-anak yang hidup di areal pembuangan sampah terbesar di Bekasi. Bersama rombongan anak-anak lainnya mereka berparade mengelilingi areal perkemahan di Cibubur, membawa spanduk dan poster dari kardus bekas.

Perkemahan anak jalanan yang diberi nama “Kampore” itu telah menjadi acara tahunan bagi anak-anak jalanan di Jakarta dan sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh Sanggar Akar, rumah singgah anak-anak jalanan di pinggir Kalimalang, Jakarta Timur, tersebut pada tahun pertama hanya melibatkan puluhan anak dan selama masa Orde Baru tidak pernah luput dari pengawasan intel. Selama tiga hari perkemahan, mereka bermain, berdiskusi, adu keterampilan, kemahiran dalam musik, dan ekspresi lainnya.

“Kali ini saya benar-benar bisa menikmati kegiatan ini. Hampir 95 persen acara ini dilaksanakan dan diorganisir oleh anak-anak sendiri,” tutur Ibe Karyanto, Koordinator Sanggar Akar. Ia pun tidak luput dari guyuran cat. Mukanya hitam legam karena cat. Hanya gigi dan matanya saja yang tinggal dalam warna aslinya.

Gagasan pesta cat itu muncul empat tahun lalu saat Kampore ke-6 di kawasan perkemahan Ragunan. Pada waktu itu, ketika anak-anak diminta melukis dengan cat, mereka bahkan mengekspresikan diri dengan mengecat tubuh mereka. Karena itu, aktivitas ini diambil alih oleh penyelenggara dan menjadi acara rutin dalam tiga tahun terakhir, dengan diberi makna bahwa semua anak jalanan adalah satu, termasuk pendamping mereka.

USAI berparade, perwakilan anak-anak tampil di panggung. Dengan muka tertutup cat dan tubuh coreng-moreng mereka berorasi. Seorang anak menyerukan agar harga BBM jangan dinaikkan dengan alasan ibunya memakai kompor untuk memasak. Anak lainnya meminta agar pemerintah mencegah banjir yang selalu menerjang rumahnya, memberikan kebebasan belajar dan bermain, membiarkan mereka bebas di jalanan. Banyak di antara anak-anak itu yang menyuarakan keinginan Tramtib, institusi keamanan dan ketertiban di bawah pemerintah daerah, dibubarkan.

“Kami ingin bebas ngamen dan mencari uang. Biarkan kami di jalanan. Musnahkan Tramtib supaya anak jalanan senang,” kata Angga (14), yang sehari-hari ngamen di kawasan Blok M.

Regi (16) yang baru seminggu melarikan diri dari panti sosial Kedoya, mengajak kawan-kawannya untuk membubarkan Tramtib. Selama lima minggu, kata Regi, ia “dipenjara” di Kedoya setelah ditangkap oleh seorang intel dalam operasi preman beberapa waktu lalu. Menanggapi ajakan Regi, seorang anak berteriak agar Tramtib dibom saja. Namun, Regi mengusulkan agar mereka berunjuk rasa terus-menerus sampai Tramtib dibubarkan.

“Agar kita aman di jalanan,” kata Regi. “Tapi jangan pakai lempar-lempar.”

APARAT Tramtib merupakan sumber kerisauan anak-anak jalanan. Kekerasan yang mereka hadapi sehari-hari di jalanan, bukanlah dari para penjahat, preman, atau pemalak, tetapi justru aparat Tramtib.

Ari (14), yang sehari-hari menyapu lantai kereta dari Stasiun Jatinegara untuk mendapatkan uang receh dari penumpang, menuturkan bahwa tiga orang rekannya tidak bisa ikut dalam acara perkemahan itu karena keburu ditangkap Tramtib sewaktu tiduran di jalanan.

“Saya sempat melarikan diri. Waktu saya berangkat, aparat Tramtib juga berkeliaran di taman di dekat tempat saya singgah,” kata Ari.

Coley dan Coki yang telah belasan tahun hidup di jalanan mengatakan bahwa hak mereka untuk hidup di jalanan. Juga ngamen di perempatan jalan.

“Apa salahnya kami ngamen di jalanan. Kami tidak mencuri. Kalau dibilang mengganggu, ada orang- orang yang memberi kami uang atau membawakan kami makanan. Justru karena ada kami, perempatan di kawasan Blok M tidak pernah ada orang kehilangan kaca spion atau HP. Lalu, kenapa kami dilarang?” ujar Coley.

Ia menuturkan, pernah ditangkap polisi dan disarankan untuk berdagang. Namun, saat berjualan koran atau teh botol di kaki lima, ia tidak luput dari kejaran Tramtib dan gerobaknya disita.

“Berbuat jahat dilarang, yang halal juga dilarang, lantas kami disuruh apa?” kata Coley.

Coki menuturkan, ia dan kawan-kawannya berada di jalanan bukan karena kemauan mereka sendiri. Mereka lari ke jalan karena tidak punya uang atau menjadi korban kekerasan orangtuanya.

“Karena dilarang ngamen di perempatan, semua pengamen naik ke bus kota. Bagaimana dengan adik-adik saya yang masih kecil kalau jatuh dari bus. Apa pemerintah yang nanggung?” kata Coki.

Penanganan anak jalanan, menurut Ibe Karyanto, bukan soal mengeluarkan atau tidak mengeluarkan mereka dari jalanan. Yang penting ketika mereka di jalanan mereka utuh sebagai pribadi, memiliki kebanggaan, tidak menunjukkan sikap-sikap defensif atau meminta belas kasihan orang lain. Sektor informal, berdagang di kaki lima, pun merupakan kehidupan di jalanan.

“Masalahnya memang bukan mengeluarkan atau tidak mengeluarkan mereka dari jalanan,” kata Karyanto.

Penulis: P Bambang Wisudo
Sumber: Sekolah Tanpa Batas

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas, 14 Juli 2001)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *