Dialog Nasional Pendidikan Alternatif


Hak atas pendidikan untuk sebagian telah dipenuhi oleh negara dengan terbukanya akses bagi semua warga untuk memperoleh pendidikan dasar. Akan tetapi tetap saja negara tidak mampu menjangkau seluruh kelompok masyarakat dan anak dengan karakteristik yang begitu beragam.

Kewajiban konstitusional pemerintah untuk menyelanggarakan satu sistem pendidikan nasional lebih sering diartikan sebagai keharusan penyeragaman meski dalam kenyataanya tidak ada satu model pendidikan yang cocok untuk semua anak. John Gatto, seorang tokoh pendidikan progresif di Amerika Serikat, pernah mengatakan bahwa ada banyak cara untuk menjadikan anak berpendidikan, sebanyak sidik jari manusia.

Ada begitu banyak anak yang tidak bisa dijangkau oleh pendidikan mainstream seperti anak-anak dari masyarakat paling marginal, komunitas-komunitas adat yang tinggal di daerah yang susah dijangkau, maupun anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.

Kebutuhan ini melahirkan pendidikan alternatif yang mucul di sejumlah wilayah, baik yang memiliki basis perkotaan, desa, maupun komunitas adat sejak 1990-an. Kebutuhan akan pendidikan alternatif juga muncul karena ketidakpuasan terhadap kualitas pendidikan, khususnya terhadap pendidikan yang memberikan ruang yang luas pada kemerdekaan dan kebutuhan individu anak.

Pendidikan alternatif bukan hal yang baru di Indonesia. Bahkan secara historis pendidikan nasional lahir dari pendidikan alternatif. Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, dan Mohammad Sjafei merupakan tokoh-tokoh pendidikan nasional dengan mendirikan sekolah-sekolah yang lahir sebagai kritik terhadap model pendidikan kolonial. Pada era berikutnya lahir tokoh seperti Romo Mangun dengan membangun komunitas pendidikan di Kali Code dan SD Mangunan di Yogyakarta.

Sejumlah sekolah alternatif muncul kemudian dan bertahan hingga saat ini, seperti Sanggar Akar dan Sanggar Ciliwung di Jakarta, Sanggar Anak Alam (Salam) di Yogyakarta, SMP Qoryah Thayibbah di Salatiga, dan sekolah-sekolah alternatif yang didirikan oleh serikat-serikat tani. Komunitas-komunitas pendidikan ini lahir sebagai suatu bentuk advokasi hak kultural anak atas pendidikan.

Dalam perkembangannya muncul pula gerakan pendidikan alternatif untuk kelompok masyarakat menengah dan atas atas di kota-kota besar. Sebagian lainnya memilih menjalani pendidikan mandiri dan membentuk komunitas-komunitas sekolah rumah (homeschooling) yang juga berkembang di perkotaan.

Pendidikan alternatif tidak lahir dari ruang hampa, melainkan lahir dari rahim kritik atas pendidikan nasional (mainstream) yang mengingkari fitrahnya untuk mencerdaskan anak-anak yang merdeka. Akan tetapi kenyataannya komunitas-komunitas pendidikan alternatif masih cenderung didiskiriminasikan dalam berbagai kebijakan.

Anak-anak yang belajar di sekolah alternatif tidak berhak mengikuti Ujian Nasional tetapi harus mengikuti ujian persamaanî atau kesetaraan. Mereka juga sering dipersulit ketika ingin berpindah ke sekolah reguler karena tidak adanya sistem bridging yang baik. Diskrimasi ini juga menyebabkan anak-anak yang memilih atau harus berada di pendidikan alternatif tidak mendapatkan hak-hak sebagaimana yang diperoleh mereka yang bersekolah di sekolah reguler.

pendidikan-alternatif

Dalam banyak kasus, para penyelenggara pendidikan alternatif juga masih harus bergulat dengan persoalan internal mereka, seperti dalam pengembangan program pembelajaran yang sistematis, ketersediaan guru-guru profesional, dan persoalan-persoalan manajerial lainnya.

Pergulatan tersebut tak jarang berkaitan dengan kesulitan merumuskan atau menyistimatisasi gagasan dasar atau hal substansial yang merupakan paradigma pendidikan alternatif. Di samping itu tantangan lain yang harus dihadapi kebanyakan penyelenggara pendidikan alternatif adalah keterbatasan sumber dana untuk memenuhi kebutuhan operasional, termasuk memenuhi (atau pun sekadar subsidi) kebutuhan para fasilitator atau guru.

Pada sisi lain harus diakui semakin banyak masyarakat yang berhasrat untuk bisa mendapatkan model pendidikan yang berkualitas, utamanya bagi anak-anak. Pendidikan alternatif merupakan salah satu pilihan model pendidikan yang berpotensi untuk bisa memenuhi hasrat masyarakat mendapatkan pendidikan berkualitas.

Sanggar Anak Alam, Qoriah Toyibah, Erudio School of Art, Sekolah Kembang hanyalah sebagian dari model pendidikan alternatif yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan model pendidikan berkualitas. Sekali pun model-model tersebut di atas sebagaimana model-model pendidikan alternatif yang lain masih menyimpan persoalan yang belum tuntas dibahas.

Penggagas Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif

Penggagas Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif

Berangkat dari kesadaran akan pentingnya keberadaan pendidikan alternatif baik sebagai kritik atas pendidikan nasional maupun sebagai praksis pendidikan yang mencerdaskan anak-anak merdeka, maka beberapa penyelenggara pendidikan alternatif berinisiatif untuk menyelenggarakan sebuah Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif.

Gagasan yang sudah dimulai dengan penyelenggaraan Dialog Nasional Pendidikan Alternatif: Merayakan Kemerdekaan Anak, 17 Mei 2016, rencananya akan mengundang penyelenggaraan pendidikan alternatif yang menjadi representasi nasional. Pertemuan tidak hanya menjadi kesempatan tatap muka atau sekadar berbagi, tetapi utamanya untuk menyelenggarakan kongres pendidikan alternatif. Paralel dengan kongres penyelenggara pendidikan alternatif, pada event Pertemuan Nasional tersebut akan diselenggarakan kongres anak merdeka dan konperensi pendidikan kritis.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *