“Kampus” Mereka Terancam Tergusur


KABAR sedih itu seolah datang tiba-tiba. Anak-anak penghuni kampus harus meninggalkan kampus tempat mereka belajar dan bermain selama ini. Bahkan, bagi sebagian mereka, kampus itu juga sekaligus sebagai tempat tinggal. Pemilik tanah tempat kampus itu berdiri sejak sepuluh tahun lalu bermaksud menjual tanahnya.

Mereka, lagi-lagi, harus pindah ke tempat lain, kecuali kalau mereka sanggup menebus tanah seluas 700 meter persegi dengan harga Rp 560 juta.

Apa yang disebut kampus itu tidak lain sebuah kompleks bangunan yang didirikan dari kayu-kayu dan bahan bangunan bekas di kawasan Gudang Seng, pinggir Kalimalang, Jakarta Timur. Mereka membangun kompleks itu sedikit demi sedikit sejak sepuluh tahun lalu di atas tanah kosong seluas 700 meter persegi. Kini mereka memiliki sebuah aula bermain, bangsal tidur, perpustakaan, ruang komputer, dan ruang audio visual.

pendidikanalternatif-09

Di tempat itulah anak-anak pinggiran membangun mimpinya, suatu hari akan keluar dari kemiskinan yang membelenggunya. “Kami bisa terus tinggal di tempat itu kalau sampai akhir Maret ini kami bisa mendapatkan tambahan dana Rp 240 juta. Kami baru memperoleh dana untuk uang muka Rp 40 juta,” kata Ibe Karyanto, pendiri dan pemimpin Sanggar Akar, yang diberi gelar rektor oleh anak-anak jalanan dan pemulung yang didampinginya.

KESEDIHAN itu agak terobati ketika mereka berhasil menghimpun sejumlah dana yang dibutuhkan dari para dermawan pada malam dana, Kamis (27/3). Keberhasilan itu tidak lepas dari simpati sejumlah artis kepada anak-anak jalanan. Mereka adalah penyanyi seperti Sherina, Andien, Oppie Andaresta, dan Titiek Puspa.

“Anak-anak yang terpaksa hidup di jalanan ini juga punya potensi, cita-cita, seperti anak yang lain-lain,” kata Sherina sebelum memainkan jari-jarinya di atas piano dan menyanyikan lagu yang berjudul Lihatlah Lebih Dekat dan lagu Diana Ross, If We Hold on Together.

Dengan “rayuan” Titiek Puspa bersama Opie, malam dana itu mengumpulkan dana Rp 197,8 juta dan lembaran uang 100 dollar AS. Dana itu belum cukup untuk menutup keharusan membayar Rp 240 juta pada akhir bulan ini.

Komunitas Sanggar Akar merupakan salah satu pelopor pendampingan anak-anak jalanan dan anak pinggiran di Jakarta. Kegiatan ini berawal pada tahun 1989, ketika sejumlah orang tergerak untuk mendampingi masyarakat miskin kota di bawah organisasi Institut Sosial Jakarta. Melalui proses yang cukup panjang, mereka melakukan penyadaran diri dan lingkungan melalui budaya. Kegiatan yang menonjol dalam komunitas Sanggar Akar adalah kegiatan teater dan kesenian. Sebagian anak-anak itu, yang telah memasuki masa remaja, bahkan kini menularkan keterampilannya kepada anak-anak lain.

“Saya ingin kuliah. Saya ingin mendirikan sekolah seperti Sanggar Akar. Mungkin di kota lain,” kata Dede Supriyatna alias Ambon (18). Pelajar STM kelas III itu bergabung dengan Sanggar Akar sejak 8 tahun lalu.

Anak-anak pinggiran itu berhak mengejar mimpi-mimpinya. Lagu penutup acara malam itu adalah lagu Michael Jackson, Heal The World, yang menyuarakan hati mereka.

Buatlah dunia menjadi tempat yang lebih baik, untukmu, untukku, dan untuk seluruh ras manusia. Ada orang-orang yang tengah menuju kematiannya, jika kamu tidak cukup peduli pada kehidupan. Buatlah dunia tempat yang lebih baik, untukmu dan untukku…. (wis)

Penulis: P Bambang Wisudo
Sumber: Sekolah Tanpa Batas

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas, 29 Maret 2003)

Catatan:
Kampus Sanggar Akar di Kalimalang, Jakarta Timur, saat ini kembali terancam tergusur proyek pembangunan tol. Sementara ganti rugi belum jelas ada pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan di tempat kampus Sanggar Akar berdiri.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *