“Letakkan Senjata, Beri Kami Buku dan Pena…”


Ratusan anak-anak jalanan, pemulung, serta anak-anak terpinggirkan lainnya bergabung dengan anak-anak dari berbagai sanggar, Senin (23/7), mengadakan pawai di Jakarta memperingati Hari Anak Nasional. Pawai itu dimeriahkan dengan kehadiran barong, jatilan, dan Drum Band “Kaleng Rombeng” yang dimain-kan oleh anak- anak, serta becak dan dokar hias.

Merujuk konflik bersenjata di sejumlah daerah, sejumlah poster dan spanduk raksasa bertulisan “Letakkan Senjata, Beri Kami Buku dan Pena” diarak dalam pawai tersebut. Sepanjang Jalan Pro-klamasi, Diponegoro, Salemba Raya, dan kembali ke Tugu Proklamasi, anak-anak dari berbagai latar belakang itu berjoget sambil memukul berbagai alat bunyi-bunyian, mulai dari drum, kaleng, panci, sampai botol air mineral. Sebagian anak lagi menarik mainan tradisional yang dibuat dari barang-barang bekas.

pendidikanalternatif-07

Adi (10) tampak antusias mengikuti pawai itu. Sepanjang jalan terik ia menabuh penggorengan yang penuh jelaga. Kakinya hitam penuh lumpur, berjalan tanpa sepatu di atas jalan aspal yang panas. Ia menghampiri seorang nenek yang tengah menyirami halaman depan rumahnya dan meminta agar nenek tersebut mengguyurkan air di kepalanya. Si nenek ragu-ragu. Adi kemudian menyorongkan kepalanya di bawah guyuran air.

Di balik kegembiraannya, ia bercerita bahwa dua minggu sebelumnya ibunya sakit. Menurut Adi, ibunya tiba-tiba lumpuh dan sampai kini masih dirawat di rumah sakit. Ayahnya seorang buruh bangunan yang harus menghidupi delapan anak. Sehari-hari Adi menghabiskan waktunya mengamen di perempatan di dekat Stasiun Jatinegara.

“Saya butuh uang untuk ibu saya,” ujar Adi.

Seorang kawannya yang ditanya tentang soal itu mengatakan, tidak tahu apakah ibu Adi sakit atau tidak. Mata Adi sembab ketika menjawab, “Gue anaknya, bukan kamu.”

Namun, ia segera melupakan kesedihannya. Dipukulnya botol besar air mineral keras-keras mengiringi bunyi-bunyian di sekitar halaman patung proklamator. “Aku mau nyanyi,” kata Adi sembari pergi menuju panggung.
Edi (16) ikut memeriahkan pawai hari anak tersebut dengan mengenakan pakaian dari sedotan. “Ini kostum saya sewaktu bermain drama. Sedotan ini saya kumpulkan dari tempat sampah,” ujarnya.

Pawai hari anak ini diprakarsai oleh Sanggar Akar, sebuah organisasi nonpemerintah yang telah lama berkecimpung dalam pendampingan anak jalanan. Serangkaian kegiatan telah diselenggarakan Sanggar Akar berkaitan dengan peringatan Hari Anak Nasional di markasnya di tepi Kali Malang, Jakarta Timur, seperti bazar dan pasar murah, pameran karya anak, diskusi, dan pemutaran film anak-anak.

Dalam selebaran yang dibagikan kepada masyarakat, Sanggar Akar menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi anak di Indonesia saat ini. Disebutkan, angka pengangguran mencapai 7,5 juta jiwa. Data yang dirilis UNDP, lembaga yang menangani program pembangunan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 30 persen pekerja Indonesia adalah anak-anak. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa tahun 1998 tercatat 4.000 anak di bawah usia 16 tahun terlibat dalam tindak kriminal.

“Di daerah-daerah konflik nasib mereka tidak kalah buruknya. Seperti belum cukup menderita, ada orang yang kemudian memanfaatkan mereka untuk menjadi tenaga murah bahkan diperjualbelikan di pasar,” demikian pernyataan da-lam selebaran yang dibagikan Sanggar Akar.

Sanggar Akar menyerukan dihentikannya pertikaian politik yang memakan jiwa dan raga anak Indonesia dan mendesak pemerintah segera memperhatikan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan anak di tempat pengungsian. Mereka juga menyerukan dihentikannya segala bentuk kekerasan terhadap anak dan memperbaiki sistem kesehatan dan pendidikan dengan memberikan pelayanan cuma-cuma kepada anak.

Koordinator Sanggar Akar Edy Karyanto mengemukakan, pawai hari anak itu diselenggarakan agar anak-anak bisa mengekspresikan kebebasannya mesti baru sedikit yang dimiliknya. “Kami juga berharap agar orang tahu bahwa hari ini adalah hari anak karena ternyata banyak guru sekolah yang tidak tahu. Dengan memperingati Hari Anak, kita ingin menyampaikan kewajiban semua orang untuk menghormati hak- hak anak,” ujar Edy yang telah belasan tahun mendampingi anak jalanan.

Penulis: P Bambang Wisudo
Sumber: Sekolah Tanpa Batas
Kredit foto: Lasti

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas, 24 Juli 2002)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *