Makalah Pedagogi Kritis – Dr Drs Augustine Siswanto MSEM


DOWNLOAD MAKALAH LENGKAP

Pengantar

Tahun 1900 adalah batas untuk melihat bagaimana sejarah geliat perlawanan terhadap penjahan atau kolonialisme terjadi. Sebelum 1900, perlawanan terhadap penjajahan lebih bersifat kedaerahan dan sporadis di seluruh Nusantara. Setelah 1900, geliat perlawanan melawan penjajahan mulai mengalami perubahan bentuk.

Diawali oleh Haji Samanhudi dengan Serikat Dagang Islam di Solo pada 16 Oktober 1905 yang menentang politik penguasa yang tidak memberi ruang pada rakyat untuk berusaha. Maka, gerakan SDI adalah gerakan perlawanan sosial dan ekonomi rakyat ketika Bung Hatta arsitek ekonomi kerakyatan Indonesia baru berusia tiga tahun. Pada kongres pertama SDI di Solo 1906, SDI berubah menjadi SI dan tujuan berubah dari permasalahan ekonomi dan sosial kearah politik dan agama serta memberi kontribusi terhadap perjuangan melawan penjajahan.

dr-siswanto

STOVIA adalah rahmat tersembunyi dimana benih-benih kebangsaan tersemai diantara mereka yang belajar di Sekolah Dokter Jawa tersebut. Setelah selesai pendidikan di STOVIA dr Wahidin Soediro Hoesodo bekerja di Jogja dan kemudian menoreh sejarah dengan mendirikan “Studiefonds” dan mendatangi karesidenan-karesidenan di Jawa untuk menarik perhatian para Bupati dan orang-orang terkemuka guna memperoleh bantuan untuk pendidikan bagi anak-anak pribumi di Jawa.

Dalam penuturan Ki Hadjar, dr Wahidin sampai duduk bersila menyembah asisten keresidenan dalam upaya tersebut. Usaha ini memberi inspirasi bagi dr Soetomo dkk., untuk mendirikan Boedi Oetaomo pada 20 Mei 1908. Kemudian, pada tahun 1913, tiga serangkai yaitu dr Tjipto Mangoen Koesoemo, dr Doewes Decker, dan Suwardi Suryaningrat mendirikan Indsche Partij sebagai partai politik pertama di pemerintahan H india Belanda dengan statuen akan melakukan segala usaha yang menuju kemerdekaan Nusa dan Bangsa.

Akhirnya, tahun 1920 muncul revolusi para priyayi eks Boedi Oetomo dan Putra HB VII yaitu Ki Ageng Suryometaram yang tergabung dalam SAKA atau Selasa Kliwonan, yaitu [1] Ki Ageng Suryomataram, non partai, [2] R.M. Soetatmo Suryo Koesoemo, anggota Volkskraad, wakil Boedi Oetomo. [3] Ki Pronowidigdo dari Boedi Oetomo Wakil Ketua Cabang Yogyakarta, [4] R.M. Prawirowiworo, anggota pengurus BO Yogyakarta, [5] R.M Sutopo Wonoboyo, Anggota pengurus besar BO, [6] B.R.M. Subono, [7] R.M.H. Suryoputro, [8] R.M.H Suryodirdjo, [9] R.M. Soewardi Soerjo ningrat, BO dan ex Indische Partij. Mereka mulai berpikir bagaimana kalau negeri ini punya presiden ke tiga di Asia.

Kesimpulan dari kelompok SAKA ini penting sekali dalam konteks Pendidikan Untuk Memerdekakan Anak, yaitu kalau negeri ini mau merdeka maka jiwanya harus dibangkitkan terlebih dahulu. Maka, setelah bertemu selama empat kali, SAKA menugasi Ki Ageng Suryometaram untuk membangkitkan jiwa orang dewasa melalu Kanda Takon dan sampai sekarang masih berlangsung di Jakarta dengan nama Junggringan. Sedang, Ki Hadjar Dewantara ditugasi untuk membangkitkan jiwa anak-anak yang akhirnya mendirikan Perguruan Nasional taman Siswa pada 3 Juli 1922 dengan simbol Langen Sastra Ngesti Mulyo yang berarti Dengan Kecerdasan Jiwa Menuju ke Arah Kesejahteraan.

Bandingkan pula dengan tujuan negeri ini dimerdekakan yang tertuang di Pembukaan UUD 1945. Hanya dalam waktu satu dekade sejak berdiri, Perguruan Nasional Taman Siswa mempunyai 125 cabang dari Sabang hingga Indonesia Timur kecuali Papua.

(*Makalah ini disampaikan dalam Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif, 21-23 Oktober 2016, di Yogyakarta*)

DOWNLOAD MAKALAH LENGKAP

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *