Pendidikan Baru untuk Dunia Baru


Oleh Daniel Mohammad Rosyid*

Pendidikan adalah proses pentradisian nilai-nilai utama dari satu generasi ke generasi berikutnya agar generasi baru mampu secara cerdas dan kreatif serta penuh tanggungjawab untuk menghadapi tantangan kehidupan baru. Pendidikan dengan demikian harus menyisakan bagi generasi baru sebuah ruang ketidakpastian dan ketidakjelasan yang dibawa masa depan.

Namun demikian dalam wacana publik selama 40 tahun terakhir hingga dewasa ini, hampir di seluruh negara di dunia, pendidikan telah dipersempit secara teknokratik menjadi persekolahan. Tujuan persekolahan sebagai instrumen teknokratik adalah untuk memastikan ketertiban umum dalam masyarakat yang taat pada aturan2 yang ditetapkan oleh Pemerintah dan wakil2 rakyat di parlemen.

daniel-rosyid

Persekolahan juga dirancang untuk menyediakan tenaga kerja trampil bergaji murah yg dipekerjakan di pabrik2. Persekolahan juga dirancang untuk mengatur selera masyarakat agar siap mengkonsumsi produk2 pabrik2 tsb. Bersama televisi, sekolah dan TV adalah institutional duo yang bertanggungjawab atas selera masyarakat konsumtiv yg dengan congkak menyebut dirinya modern.

Persekolahan adalah instrumen terpenting peradaban industri berbasis minyak bumi yang boros energi yang telah mengantarkan manusia pada tepi jurang keruntuhan lingkungan. Peradaban ini tidak layak untuk diteruskan dan oleh karenanya sistem persekolahanpun perlu kita tinjau ulang.

Kita perlu membangun pendidikan baru bagi sebuah dunia baru yang kita bebaskan dari belenggu masyarakat industri yg gagal serta monopoli persekolahan yang makin tidak relevan. Jadi persoalannya bukan soal alternatif dari persekolahan tapi menjebol institusi ini untuk digantikan dengan institusi baru yang lebih cocok. Jadi revolusi mental mensyaratkan revolusi institusional.

Ki Hadjar, Ivan Illich, dan Sugata Mitra telah menunjukkan sosok institusi pendidikan baru itu yang ternyata sudah lama kita telantarkan. Keluarga, masyarakat dan perguruan adalah tiga pilar pendidikan masyarakat yg perlu kita tumbuhkembangkan. Illich mengusulkan jejaring belajar sambil menekankan belajar bukan bersekolah. Mitra membuktikan bahwa belajar dalam Self Organized Learning Environment (SOLE) tidak mensyaratkan formalisme persekolahan. Sementara itu perguruan akan menggantikan persekolahan.
Konsepnya lebih berguru, bukan bersekolah.

Surabaya 1 Agustus 2016

(*Penulis adalah salah satu pembicara dari Padepokan Tjokroaminoto dalam Diskusi Pendidikan Alternatif; “Membangun Keragaman Model Pendidikan” yang diselenggarakan di Warung Mbah Cokro Surabaya, 2 Agustus 2016)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *