Pengorbanan Ibe untuk Anak Pinggiran


MASA ketika anak-anak jalanan diperlakukan lebih buruk daripada binatang telah lewat. Ketika Ibe Karyanto, 41 tahun, mulai hidup bersama-sama anak-anak jalanan, pada saat itulah anak-anak itu ditangkapi dari stasiun-stasiun kereta api. Mereka kemudian ditahan, dipukuli, disetrum, disundut rokok, bahkan sampai diseterika. Belasan tahun sudah Ibe hidup bersama mereka. Sampai hari ini ia memilih tetap bersama mereka, hidup di rumah terbuka di pinggiran Kali Malang, Jakarta Timur.

IBE melewatkan masa mudanya untuk anak-anak yang kurang beruntung. Ketika kawan-kawan segenerasi Ibe sibuk berhitung dengan masa depan, bekerja siang-malam demi karier, mengejar mimpi hidup serba berkecukupan, Ibe membuat pilihannya sendiri.

pendidikanalternatif-06Sampai sekarang ia tidak memiliki rumah. Ia tinggal di rumah yang bisa ditempati anak-anak yang butuh tempat berteduh. Ruang pribadinya hanyalah kamar di barak berdinding kayu bekas ia tinggal bersama puluhan anak didiknya. Ia tidur di atas ranjang kecil dilapisi selembar kasur tipis. Satu-satunya harta berharga yang dimilikinya hanyalah sebuah mobil jip hardtop butut keluaran tahun 1974.

Ibe adalah orang di balik Sanggar Anak Akar, kumpulan anak jalanan dan anak pinggiran yang sering muncul dalam pementasan musik dan teater. Sejak awal Ibe menggunakan pendekatan kesenian untuk mendidik anak-anaknya. Generasi pertama anak didiknya kini menjadi andalan utama aktivitas sanggar. Bertolak dari kegiatan kesenian di sanggar, tujuh anak didiknya kini belajar di perguruan tinggi. Ada yang melanjutkan kuliah di bidang seni rupa, musik, desain, dan bahasa Inggris.

Grup musik Sanggar Anak Akar akan menguji kebolehannya dalam panggung musik dalam konser di Graha Usmar Ismail 10-11 September mendatang.

Kedekatan dengan anak, pencapaian Sanggar Akar, dan prestasi anak- anak didiknya itulah harta tak ternilai yang dia miliki. Ibe mengaku sempat cemburu dengan kawan-kawannya yang berhasil menjadi pemimpin puncak di perusahaan, hidup berkecukupan bersama anak-istri.

Selama bertahun-tahun Sanggar Akar berjalan melibatkan dukungan banyak orang. Mereka menyumbang tenaga, uang, alat musik bekas, sampai beras dan barang bekas, ambil bagian dalam proyek bersama untuk anak-anak yang dimarjinalkan itu. Sejumlah program Sanggar Akar didukung sejumlah lembaga dana, tetapi itu bukan yang utama.

Berkat dukungan berbagai pihak, Sanggar Akar kini memiliki lokasi permanen setelah berhasil membeli tanah seluas 714 meter persegi senilai Rp 580 juta. Tempat itu menampung tidak kurang 80 anak dengan aktivitas hampir 24 jam. Malam hari merupakan saat sibuk, ketika anak- anak bermain musik, teater, belajar menyablon, mematung, dan lain- lain. Dengan tiga basis yang dimiliki, Sanggar Akar melibatkan tidak kurang dari 200 anak yang selama ini dipinggirkan.

Pematung Dolorosa Sinaga, pemusik Arjuna Hutagalong, para seniman dan pembuat film, guru, dan mahasiswa ikut bergabung menyumbangkan keahlian yang mereka miliki untuk anak-anak Sanggar Akar.

PERGULATAN Ibe dengan anak-anak pinggiran diawali pada akhir masa kuliahnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Saat itu, tahun 1988, ia bergabung menangani advokasi anak di Institut Sosial Jakarta (ISJ) yang dipimpin Romo Sandyawan. Ia sempat meninggalkan dunia anak jalanan ketika ditugaskan mengajar di Timor Timur selama satu setengah tahun.

Di Timtim ia diberi tugas mengajar bahasa Indonesia di seminari menengah. Ibe yang sejak SMA aktif bergiat dalam seni teater dan sastra mencoba mengembangkan model pengajaran bahasa Indonesia dengan ekspresi tulis dan lisan. Hasilnya adalah majalah dinding yang menjadi ekspresi bebas anak-anak SMA itu, termasuk isu kemerdekaan Timor Leste. Akibatnya, ia dipanggil penguasa militer, diminta menghentikan penerbitan tersebut. Ibe akhirnya memilih meninggalkan kota yang sarat nuansa politik, pindah ke Desa Soe Bada yang tidak ada sekolahnya.

“Saya mulai dengan mengajar 15 murid, menggunakan bangunan sekolah yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi,” kata Ibe.

Awalnya anak-anak didiknya yang berumur 10-15 tahun menulis tentang kebun kopi yang ditelantarkan. Warga tidak berani menjamah daerah itu, takut dituduh bagian dari gerilyawan. Bertolak dari tulisan itu, anak-anak terjun membersihkan kebun itu di pinggir- pinggirnya. Inisiatif anak-anak itu bisa menggerakkan warga menggarap kembali kebun kopi yang ditelantarkan itu. Dari situlah ia diyakinkan bahwa pendidikan bisa mengubah dan menggerakkan sesuatu.

Sepulang dari Timor Timur, Ibe kembali bergabung dengan ISJ menangani advokasi anak. Pada 1993 ISJ mulai membuat rumah terbuka yang bisa menjadi tempat berteduh bagi anak jalanan itu. Sejak itulah Ibe tinggal bersama anak-anak jalanan.

Saat ia mengurus seorang anak yang ditahan di kantor militer, kekerasan terhadap anak sengaja ditunjukkan secara telanjang di hadapannya. Seorang anak digelandang dari ruang tahanan ke ruang interogasi hanya menggunakan celana dalam, sembari dipukuli dengan sepotong kayu. Ibe malam itu ditahan. Tontonan kekerasan begitu sering dia hadapi. Lewat tengah malam, seorang anak tiba-tiba tersungkur di depan rumah dalam keadaan berlumuran darah karena berkelahi dengan preman. Peristiwa-peristiwa itu membuat Ibe sulit tidur, “penyakit” yang dialaminya sampai hari ini.

“Berbicara dengan anak yang menjadi korban besar khasiatnya untuk menyembuhkan diri saya sendiri,” kata Ibe.

KEKERASAN seperti itu kini jarang dia dengar. Ia tidak yakin apakah bentuk kekerasan seperti itu tidak ada lagi karena kebanyakan anak asuhnya sekarang ini tidak lagi berkeliaran di stasiun-stasiun kereta api. Kini anak didiknya banyak berasal dari keluarga tidak mampu yang tinggal di daerah kumuh.

Dalam mendidik, Ibe sempat melakukan kekeliruan dalam memberikan teguran keras pada seorang anaknya di hadapan tamu. Pagi itu beberapa anak didiknya pulang dalam keadaan mabuk, suatu pelanggaran terhadap kesepakatan yang dibuat bersama. Anak-anak remaja itu langsung disuruh mandi dan membersihkan diri.

Ibe meminta maaf dan mencoba menenangkan anak itu. Namun, kemarahan anak itu menjadi-jadi saat diajak masuk ruangan. Dinding dan almari dipukuli, kaca dipecah. Dengan potongan kaca terhunus ia siap menyerang. Ibe masih mencoba menenangkan anak itu dan meminta maaf, tetapi ia pasrah saat anak itu kalap. Ibe membuka baju, duduk di atas meja, mengatakan ia tidak akan melayani berkelahi dan mempersilakan anak itu membunuhnya bila belum puas dengan permintaan maaf yang dia sampaikan.

“Anak itu menangis menjadi-jadi. Sejak itu saya belajar bahwa saya harus selalu rendah hati. Tiap anak memiliki harga diri yang tidak boleh dilecehkan dalam bentuk apa pun,” tutur Ibe.

Sehari-hari Ibe mendampingi anak- anak sampai pukul 03.00, tanpa hari libur, dari melatih teater, musik, mendampingi belajar, sampai sekadar menyapa dan menjadi tempat berkeluh kesah. Meski tanpa harta benda, tanpa tabungan hari tua, ia tidak cemas terhadap masa depannya.

“Merekalah keluarga saya. Setelah mereka tumbuh, akan ada yang datang lagi. Saya akan tetap bersama mereka,” kata Ibe.

Penulis: P Bambang Wisudo
Sumber: Sekolah Tanpa Batas

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas, 30 Agustus 2014)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *