Salman Khan: Revolusi Pendidikan dari Toilet


Dari sebuah bilik bekas toilet, Salman Khan membuat video tutorial untuk sepupunya. Kini Khan Academy tercatat sebagai situs pendidikan yang paling berpengaruh. Bill Gates dibuat kagum olehnya. Dari seorang analis perusahaan jasa keuangan, Khan dijuluki sebagai “guru dunia”. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai mesias matematika.

PESTA perkawinan Salman Amin Khan di New Jersey, Amerika Serikat, tidak pernah dilupakan oleh sepupunya, Nadia. Gadis cilik bermur 12 tahun itu tengah frustrasi. Nilai ujian matematikanya jeblok. Andaikata tidak bertemu Khan, mungkin Nadia akan terus dibayang-bayangi kegalalannya itu. Namun, berkat bimbingan Khan, Nadia berhasil mengatasi kesulitannya. Ia berhasil mengejar cita-citanya untuk menjadi dokter.

Pertemuan di pesta perkawinan itu ternyata bukan saja memberikan berkah pada Nadia, tetapi juga Khan. Gara-gara itu, jalan hidup Khan kemudian berubah total.

pendidikanalternatif-12a

Dari seorang agen modal, Khan – pria berdarah campuran Bangladesh-India, lulusan MIT dan MBA dari Sekolah Bisnis Harvard, kini bekerja sepenuhnya untuk pendidikan. Melalui situsnya yang terkenal khanacademy.org, Khan terus bergulat mewujudkan mimpinya untuk menyelenggarakan pendidikan gratis berkelas orang untuk semua orang, di mana saja dan kapan saja.

Pencapaian Khan yang luar biasa mendapat pujian dari berbagai tokoh dunia dan menjadi sorotan dari berbagai media internasional. Tidak kurang salah satu orang terkaya di dunia, pendiri Microsoft Bill Gates, menyebut Khan sebagai guru favoritnya. Ia pernah masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Majalah Times pada 2012. Majalah Mingguan Bisnis Bloomberg Mei 2011 menurunkan sebuah feature yang menyebut Khan sebagai “Mesias Matematika”. Wajah Khan muncul di sampul Majalah Forbes November 2012 dan menjulukinya sebagai guru selibriti internet yang pertama. Dalam edisi itu Forbes menurunkan liputan khusus dalam rubriknya Impact berjudul “Reeducatiing Education” dengan baris pembuka yang provokatif “Seorang Pria, Sebuah Komputer, 10 juta Murid.”

Tidak berlebihan bila ia kemudian dijuluki “guru dunia”. Hebatnya lagi, pencapaian mendunia itu dilakukakannya dari sebuah bilik kecil bekas toilet.

Dari keluarga ke Dunia

pendidikanalternatif-12bSemua itu berawal dari sepupunya, Nadia, yang tengah putus asa. Nilai ujian matematika di akhir kelas 6 SD itu krusial bagi masa depan Nadia karena sistem pendidikan di Amerika Serikat yang memakai sistem track. Ibu Nadia sangat tertekan. Padahal di mata Khan, Nadia adalah gadis yang cerdas. Ia tidak percaya Nadia tidak bisa matematika.

“Aku melihat potensi dalam dirinya. Ia logis, kreatif, dan memiliki daya tahan. Aku telah melihatnya kelak akan menjadi seorang ahli komputer atau matematika. Tak bisa aku bayangkan ia menemukan hal yang menyulitkan di kelas enam,” kata Khan yang menuliskan pergulatannya dengan Khan Academy dan mimpi-mimpinya dalam bukunya One World School House: Education Reimagined yang terbit pada 2012.

Khan tinggal di Boston. Nadia di New Orleans. Tidak ada cara lain kecuali bimbingan itu dilakukan dengan belajar jarak jauh. Maka disepakatilah bahwa mereka akan sama-sama mendaftar di Yahoo!Messenger. Khan juga akan menggunakan piranti lunak Doodle untuk memberikan penjelasan secara visual. Semua itu dilakukannya coba-coba, tanpa pengalaman, tanpa asumsi, tanpa pengetahuan pedagogis.

Sebelum memulai tutorialnya, ia mencoba mencari tahu kesulitan apa yang dialami Nadia dalam ujian matematika. Yang membuat Khan terheran-heran, Nadia ternyata hanya tersandung dalam pemahaman konsep unit konversi, seperti pemahaman berapa ons dalam satu kilogram, berapa feet dalam enam mil, dan sebagainya.
Kemungkinan, saat guru menjelaskan topik itu Nadia tidak masuk, atau ngantuk, atau kurang konsentrasi.
Padahal untuk memahami matematika diperlukan pemahaman tuntas konsep-konsep yang mendasari pemahaman pada tingkat berikutnya.Masalahnya, dalam kelas konvesional, setelah topik itu dibahas guru terus bergerak, mengikuti jadwal dan mengejar kurikulum, meninggalkan anak-anak seperti Nadia dalam kegelapan.

Minggu pertama membimbing Nadia diakuinya merupakan saat-saat yang melelahkan. Ia mencoba meyakinkan Nadia bahwa anak itu bisa karena hal-hal yang jauh lebih sulit sudah dikuasainya. Namun ketika dihadapkan soal-soal unit konversi, lama Nadia menjawab. Jawabannya pun tebak-tebakan. Ia mendorong Nadia untuk memberikan jawaban tegas, dengan berteriak, atau mengatakan terus terang tidak tahu. Pergulatan itu berakhir ketika Nadia sampai pada titik “Aha!” dan semuanya menjadi terang benderang.

“Unit konversi tiba-tiba saja mulai masuk akal bagi Nadia dan sesi-sesi bimbingan selanjutnya menjadi sangat menyenangkan,” kata Khan mengenang saat-saat yang menentukan itu.

Nadia kemudian mengikuti ujian ulang matematika. Nilainya melambung. Saat itulah Khan mulai membimbing dua adik Nadia, Arman dan Ali. Dari mulut ke mulut, Khan kemudian memiliki 10 murid. Ia mencoba membimbing empat murid sekaligus dengan fasilitas Skype. Ia mencoba menciptakan piranti lunak untuk membuat soal dan dapat melacak jejak bagaimana muridnya menjawab. Semua itu dilakukannya pada waktu senggangnya. Mengajar menjadi hobi barunya.

Mendunia Melalui YouTube

pendidikanalternatif-12cSUATU waktu Khan memperoleh saran dari seorang kawannya mengapa ia tidak merekam pelajaran yang dibuat dan mengirimkannya ke YouTube. “Saat itu aku menganggap ide itu … gila! YouTube? Youtube hanya untuk kucing yang bermain piano, bukan untuk metematika yang serius. Kurikulum yang sistematik dan serius di YouTube? Jelas ini pikiran bodoh,” kata Khan.

Toh Khan mengikuti sarannya. Posting tutorial dalam YouTube itu menjadi babak baru dalam pengajaran yang diberikan Khan. Umpan balik dari sepupu-sepupunya sungguh mengejutkan Khan. “Mereka mengatakan, mereka lebih menyukai aku di YouTube daripada bertemu langsung,” kata Khan dalam presentasi di depan forum TED, lembaga nonprofit yang berkomitmen menyebarluaskan ide-ide inspirasional melalui video online.

Tayangan tutorial matematika Khan di YouTube itu meluncur seperti bola salju. Bukan hanya sepupu dan murid-muridnya bimbingan belajarnya saja yang mengakses tayangan itu tetapi juga anak-anak dan orang-orang dewasa yang sama sekali tidak dikenalnya. Sebagian orang yang tak sengaja menemukan tutorual gratis di YouTube itu memberikan umpan balik.

“Aku telah belajar selama tiga jam di YouTube dan mendapatkan lebih banyak daripada yang aku peroleh selama tiga tahun di kelas matematika”.

“Baru pertamakalinya aku tersenyum setelah mengerjakan soal turunan”.

“Sama dong. Aku benar-benar merasa gembira dan suasana hati aku riang sepanjang hari.”

“Aku ingat melihat semua buku tentang matriks seperti ini di kelas, dan sekarang aku merasa, aku bisa Kungfu.”

Awal 2009, Khan Academy terus bergulir. Puluhan ribu murid menggunakannya tiap hari. Khan menggunakan seluruh waktu luangnya untuk membuat tutorial dari bilik kecil bekas toilet. Modalnya hanyalah meja kursi, sebuah komputer tua, tablet yang berfungsi papan tulis, perekam audio visual murahan. Tapi hobi baru mengajar jarak jauh itu membuatnya tak fokus lagi dengan pekerjaan utamanya sebagai analis di perusahaan jasa keuangan.

Suatu saat ia memperoleh saran dari salah satu penggemarnya, pemilik sebuah jaringan restoran besar BJ. Jeremiah Henessy mengatakan bahwa Khan telah menyia-nyaiakan waktunya bekerja sebagai analis perusahaan keuangan. Ia mencoba meyakinkan bahwa Khan bahwa Khan Academy bakal membantu mengubah dunia sebagai sebuah lembaga nonprofit. Saran itu tidak ia tanggapi serius. Bagaimana mungkin ia bisa hidup? Anaknya baru saja lahir dan isterinya sedang dalam masa pelatihan kerja.

“Tampaknya tidak bertanggungjawab bila aku mempertimbangkan berhenti bekerja,” kata Khan.

Pada musim panas 2009, ia mulai mempertimbangkan serius untuk keluar dari pekerjaannya. Saat itu puluhan ribu murid telah menggunakan video tuturial Khan Academy secara reguler. Situsnya tersebar dari mulut ke mulut yang membuat kebanjiran pengunjung dan macet. Melihat potensi yang luar biasa itu Khan mengajak bicara isterinya, Umaima, dan menyatakan akan berhenti bekerja di perusahaan keuangan dan akan bekerja sepenuhnya untuk Khan Academy. Ia memang memiliki tabungan yang bisa untuk uang muka pembelian rumah sederhana di Silicon Valley. Hanya itu. Penghasilan isterinya belum berarti, ia baru menjalani latihan kerja sebagai ahli pengobatan rheumatik.

Dua peristiwa yang sangat penting bagi Khan terjadi. Pertama, Khan Academy terpilih sebagai finalis penghargaan dari Museum Teknologi San Jose. Kedua ia menerima email melalui YouTube. Email itu ditulis dari seorang murid. Ia mengatakan bahwa orang-orang hitam tidak diterima dengan tangan terbuka di sekolah-sekolah di wilayahya. Tidak ada guru yang baik hati padaku, kata anak itu. Keluarganya berusaha menabung agar ia dapat berpindah ke komunitas yang lebih bersahabat. Akan tetapi tanpa penguasaan matematika dasar, pekembangannya berjalan lambat, kata anak itu

“Aku telah menghabisakan seluruh libur musim panas di lembar YouTube-mu … dan aku sekadar ingin mengucapkan terima kasih atas apa yang kamu lakukan. Minggu lalu aku mengikuti tes penempatan matematika dan sekarang aku mengambil mata kuliah Matematika 200 …. Aku bisa mengatakan tanpa keraguan sedikitpun bahwa kamu telah mengubah kehidupanku dan kehidupan semua orang dalam keluargaku.”

Dua peristiwa itu yang membuat Khan sampai pada keputusan untuk berhenti bekerja sebagai analis keuangan. Sejak itu Khan Academy terus dibanjiri pengunjung tapi belum juga mendapatkan dukungan yang berarti. Tiap bulan ia harus membobol tabungannya untuk membiayai isteri dan anaknya yang masih bayi. Hampir saja Khan putus asa.

Sejumlah orang memang telah memberikan donasi. Ada yang 5 dollar, 10 dollar, bahkan 100 dollar. Satu saat ia mendapatkan email kejutan dari seorang wanita yang menyebutkan dirinya sebagai “penggemar berat”. Ia meminta alamat untuk mengirimkan donasi. Kali ini Khan menerima donasi berarti, check sebesar 10.000 US dollar atau sekitar Rp 90 juta. Ia baru menyadari bahwa perempuan itu tidak lain Ann, isteri spekulan pasar uang ternama, John Doerr. Ia segera mengirim surat email ucapan terima kasih. Email itu dibalas Ann yang mengundangnya makan siang.

Makan siang itu berlangsung di Palo Alto. Ann datang naik sepeda warna biru kehijauan. Dalam perbincangan itu, sekilas Ann menanyakan bagaimana Khan menyokong keluarganya. “Tidak ada, kami hidup dari tabungan,” kata Khan. Permpuan itu mengangguk dan mereka pun berpisah. Dua puluh menit kemudian, saat akan memarkir mobilnya, ia membuka pesan pendek. Ternyata pesan itu dari Ann. “Kamu membutuhkan untuk menyokong dirimu sendiri. Sekarang juga aku mengirim cek sebesar 100.000 dollar.”

“Hampir saja aku menabrak pintu garasi,” kata Khan yang tidak percaya menerima check sebesar Rp 900 juta itu.

Memantapkan Perjalanan

Kejadian itu mengawali peristiwa-peristiwa luar biasa bagi Khan Academy. Berulang kali ia menerima pesan pendek dari Ann. Suatu saat ia menerima pesan pendek yang mengatakan bahwa Bill Gates tengah membicarakannya di Festival Ide-ide Aspen. Bill Gates mengatakan bahwa ia salah satu penggemar Khan Academy dan menggunakannya untuk mengajar anak-anaknya. Benarkah Bill Gates menonton video-video pendek yang dibuatnya? Khan setengah tak percaya.

Seminggu setelah peristiwa itu, Khan mendapatkan email dan telepon dari kepala staf Gates yang memintanya terbang ke Seatle untuk bertemu Gates dan membicarakan kemungkinan dukungan yang bisa diberikan.

Pertemuan itu terjadi 22 Agustus 2010 di kantor Gates di Kirkland, Washington. Khan menggunakan kesempatan itu berbicara sekitar 15 menit apa yang bisa dilakukan Khan Academy dan bagaimana melakukannya. Bill mengangguk-angguk selama mendengarkan penjelasannya. “Aku sebetulnya tidak tahu apa yang tengah aku katakan. Dua puluh persen otak saja bekerja untuk bicara. Delapan puluh persen lainnya untuk berpikir, sadarkah kamu bahwa kamu tengah bicara dengan Bill Gates? Persis di sebelah kananmu di meja. BILL GATES. Lihat, itu Bill Gates. Sebaiknya kamu tidak mengacaukannya! Jangan pernah berpikir melontarkan leluconmu yang bodoh!” kata Khan mengenang pertemuan itu.

Dua hari setelah pertemuan bersejarah itu, muncul artikel di Majalah Fortune berjudul “Guru Favorit Bill Gates”. Artikel itu yang membuat ibu Khan menangis. “Aku pikir itu pertamakalinya ia tidak benar-benar terganggu aku tidak masuk sekolah kedokteran,” kata Khan.

Tulisan di Fortune mengungkapkan bahwa bahwa Bill Gates merupakan konsumen pendikan online yang rakus. Menurut majalah itu, seorang pekerja menulis email pada Gates menceritakan tentang khanacademy.org yang menyajikan harta digital yang besar berupa video-video pendek gratis yang dibuat oleh Khan sendirian. Beberapa menit kemudianl Gates menjawab, “Pria ini mengagumkan.” Sungguh mengagumkan betapa banyak yang telah ia buat dengan menggunakan sumber-sumber yang terbatas.”

Beberapa saat setelah pertemuan itu Yayasan Bill Gates memberikan hibah kepada Khan Academy sebesar 1,5 juta dollar. Dana itu antara lain dipergunakan antara lain untuk menyewa ruangan kantor dan mempekerjakan tim terdiri dari lima profesional. Yayasan Gates kemudian memberikan hibah lainnya sebesar 4 juta dollar. Beberapa waktu kemudian Google juga mengumumkan memberikan penghargaan kepada Khan Academy sebesar 2 juta doolar untuk membangun lebih lanjut perpustakaan latihan dan menerjemahkan konten tuturial dalam 10 bahasa yang banyak penggunanya di dunia.

Khan Academy bergerak lebih lanjut dengan menyambut tawaran untuk membuat pilot project untuk mengintegrasikan video tuturial Khan dalam pembelajaran formal di sekolah eksperimen Los Atos. Sekolah bergengsi itu terletak di jantung kota Silicon Valley. Itulah pertama kalinya Khan berinterasi langsung dengan anak-anak dan guru-guru. Eksperimen itu menghasilkan gagasan untuk mengeluarkan pengajaran di luar kelas, dengan meminta murid menonton video tutorial di rumah. Sebaliknya di kelas, murid mengerjakan “pekerjaan rumah”.

Cara itu, menurut Khan, akan membuat kelas menjadi lebih manusiawi, memungkinkan guru melakukan pendekatan secara individual pada murid-muridnya, memungkinkan murid belajar dengan kecepatan masing-masing, dan memberikan kesempatan murid saling membantu. Guru dapat memonitor perkembangan individual murid melalui piranti lunak yang disediakan. Eksperimen itu dicobakan di sejumlah sekolah lain dan kini menular di banyak sekolah di Amerika Serikat.

Khan Academy sangat populer di Amerika Serikat, Bangladesh, Singapura, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya. Di Indonesia, Khanacademy belum begitu populer meskipun sejumlah video tutorial Khan Academy telah disertai dengan teks terjemahan dalam bahasa Indonesia. Menurut Dhita Puti Sarasvati, yang mengajar pendidikan matematika di Sampoerna School of Education, mungkin itu karena di Indonesia belum ada kebutuhan untuk belajar lagi. Padahal, kata Puti, video-video tutorial itu bisa sangat membantu murid-murid yang tertinggal dalam pelajaran di sekolah.

Namun pengajaran matematika di sekolah tidak bisa tergantung pada video-video tutorial seperti. Metodenya masih sama, ceramah, kurang mengarah pada pemecahan masalah dan belum mendorong tumbuhnya kreatvitas, kata Puti.

“Lagi pula cara bicara Khan terlalu cepat,” kata Puti.

Iwan Pranoto, guru besar matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan bahwa Khan merupakan seorang guru yang baik dan sangat pandai. “Apa yang dia lakukan sungguh luar biasa. Ia seseorang yang luar biasa cerdas,” kata Iwan.

Menurut Iwan, kekutan video pembelajaran Khan adalah karena sangat cocok dengan kharakteristik generasi sekarang, kaum pribumi digital (digital natives). Seperti diakui sepupu-sepupu Khan, mereka lebih suka Khan di YouTube daripada bertemu langsung. Anak-anak ini juga tidak bisa konsentrasi belajar berlama-lama dan Khan tahu itu, ia membuat video pembelajaran dalam durasi pendek-pendek.

Menurut Iwan yang juga bereksperimen dengan video pembelajaran matematika melalui situsnya pakiwan.com, dengan video-video pembelajaran seperti itu saja tidak cukup. Pendidikan yang baik harus meliputi aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Khan baru menggarap setengahnya. Sikap belum digarap, dan pembelajarannya masih pada tingakt dasar belum mengarah pada penguasaan tingkat tinggi. Namun, menurut Iwan, penggunaan video-video pembelajaran seperti Khan Academy akan sangat mungkin meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di Indonesia bila bisa dikolaborasikan dengan pembelajran di kelas. Inilah tugas pemerintah, menyediakan infrastruktur internet yang memadai di rumah maupun di sekolah.

Tak Sepi Kritik

Khan Academy terus merambah ke bidang-bidang studi lain, di luar matemaika dan sains. Ia juga melayani kebutuhan pendidikan lebih lanjut untuk orang dewasa. Khan Academy kini menawarkan lebih dari 4.000 video tutorial, sebagian besar dibuat oleh Khan sendiri, di bidang ekonomi, keuangan, sejarah seni, komputer, persiapan ujian standar berbagai bidang studi, dan lain-lainnya. Bertolak dari eksperimentasinya, Khan menggugat berbagai logika persekolahan formal, mempersoalkan tes standar, sekolah konvensional yang meneruskan model Prussia di abad ke-18 yang menurut dia telah usang, dan mengibarkan revolusi pendidikan untuk mengubah wajah dunia yang menghadapi berbagai masalah.

Betapapun, Khan juga menghadapi serangan dan kritik tajam. Gary Strager, seorang penganjur ternama penggunaan laptop di ruang kelas, mengatakan bahwa Khan Academy sama sekali tidak inovatif, sekadar versi teknologi teknik pengajaran tua yang menekankan pada ceramah dan pentubian (drilling). Sylvia Martinez, Presiden Generasi YES – sebuah NGO yang mempromosikan penggunaan teknologi di sekolah – mengatakan bahwa hal-hal yang dilakukan Khan Acadmy hanyalah mengajarkan hapalan.

Tentu saja Khan menyangkal keras. “Justru sebaliknya,” kata Khan. Semakin guru mengeluarkan penajaran di luar ruang kelas – murid melihat ceramah yang dia sampaikan di rumah – semakin banyak waktu diberikan untuk aktivitas kreatif di ruang kelas, seperti seni, permainan, atau diskusi kolektif tentang hal-hal yang abstrak. “Kamu akan benar-benar memerdekakan ruang kelas. Kamu akan membuat kelas makin manusiawi,” kata Khan seperti dikutip Majalah Wired.

Bill Gates membela Khan dengan nada jauh lebih keras. “Itu bullshit,” ujarnya. “Jika kamu tidak bisa perkalian, katakan pada aku, kontribusi macam apa yang bisa kamu berikan untuk masyarakat?”

Penulis: P Bambang Wisudo
Sumber: Sekolah Tanpa Batas

(Artikel ini pernah dimuat di Majalah Voice+, April 2013)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *