Solidaritas Anak-anak Pinggiran


Tema yang diangkat Sanggar Anak Akar melalui pementasan operet Nyanyian Ranting Kering di Taman Ismail Mazuki (TIM) Jakarta, Selasa (25/7), tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mereka masih saja mengangkat kisah sedih anak-anak jalanan yang diperlakukan sewenang-wenang oleh aparat ketenteraman dan ketertiban alias tramtib.

Memang begitulah realitas yang terjadi sampai saat ini. Anak-anak pinggiran seakan-akan dikutuk oleh sistem yang tidak adil: hidup miskin tujuh turunan. Mereka bukannya disantuni oleh negara, tetapi justru dianggap sampah yang harus disingkirkan.

“Walaupun tema ini sering kami angkat, kenyataan yang kami hadapi memang belum ada perubahan. Perlakuan terhadap anak-anak jalanan bukannya bertambah baik,” kata Andre, yang bergabung sebagai anak Sanggar Akar sejak remaja.

pendidikanalternatif-08

Andre dan Soesilo merupakan anak-anak bangkot Sanggar Akar yang menggarap produksi ke-15 operet Sanggar Akar. Berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kali ini seluruh kepanitiaan dan pementasan digarap oleh anak-anak sanggar sendiri.

“Untuk pertama kalinya saya bisa sepenuhnya menikmati pertunjukan ini sebagai penonton,” kata Ibe Karyanto, Koordinator Sanggar Akar.

Operet Nyanyian Ranting Kering memang pernah ditampilkan Sanggar Akar beberapa tahun sebelumnya, tetapi pertunjukan Selasa lalu hadir dengan garapan dan dialog baru. Alasannya sederhana, anak-anak sanggar tidak punya cukup waktu untuk menggarap cerita baru.

Selama sepuluh bulan terakhir mereka sibuk dengan kegiatan membangun rumah baru. Rumah yang lama, rumah semipermanen dari kayu bekas telah lapuk dimakan waktu. Kini, berkat dana sebuah organisasi nonpemerintah dari Belanda serta sumbangan dari para sahabat Akar, mereka telah memiliki rumah baru berlantai tiga dengan dinding batu bata. Mereka hanya mempekerjakan empat tukang. Selama 10 bulan, anak- anak sanggar yang cukup umur, siang malam bergotong-royong membangun rumah tersebut.

Usai membangun sanggar, sejumlah aktivis sanggar terpanggil untuk menyelenggarakan pendidikan alternatif bagi anak-anak korban gempa bumi di Klaten. Dengan modal seadanya mereka mendirikan tenda belajar di Dukuh Pundung dan Jombor, Kecamatan Gantiwarno, Klaten. Berkat keberadaan tenda belajar itu pula, anak-anak dusun yang menjadi korban bencana itu bisa ikut merayakan Hari Anak Nasional yang pertama kalinya mereka ikuti.

Hampir seluruh pemain teater adalah anak-anak baru, dibawah 18 tahun. Anak-anak itu menggunakan pakaian keseharian mereka. Gerak dan tari natural ditampilkan dalam penghayatan dan kegembiraan. Mereka tidak hanya menguji diri dan tampil di atas panggung, tetapi juga mencoba menggalang solidaritas untuk kawan-kawan mereka yang menjadi korban gempa bumi di Klaten. Hasil pementasan dan pengumpulan dana spontan yang dilakukan sebelum pentas dimulai akan dipergunakan untuk meneruskan kegiatan tenda belajar di Klaten.

Solidaritas tidak harus menunggu kelimpahan. Solidaritas terhadap sesama melekat dalam keseharian mereka, ketika mereka harus saweran, mengumpulkan recehan, sekadar untuk dapat izin menjenguk kawan-kawan mereka yang digaruk petugas dan “diinapkan” di panti-panti sosial…. (wis)

Penulis: P Bambang Wisudo
Sumber: Sekolah Tanpa Batas
Kredit foto: Sanggar Akar – Niat

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas, 28 Juli 2006)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *